Penjualan KIA Rio Sunroof Indonesia Makin Redup, Hanya Laku 38 Unit Selama Q1 2018

CaruserMagz.com – Salah satu mobil yang cukup atraktif di Indonesia adalah KIA All New Rio, khususnya Rio generasi ke-3 yang hadir pada tahun 2012 silam. Hatchback bermesin 1.400 cc tersebut secara mengejutkan menjadi alternatif pilihan menarik bagi konsumen Indonesia yang sudah bosan dengan hatchback dari brand mainstream. KIA All New Rio generasi ke-3 tersebut langsung ramai terlihat di jalanan, tak lama setelah peluncurannya.

 
Pada tahun 2017 yang lalu pihak KIA Mobil Indonesia (KMI) memasukan All New Rio generasi ke-4 yang belum lama debut global. Rio generasi baru tersebut berubah total dari generasi sebelumnya. Dimana banyak yang menyebutnya jadi lebih dewasa dan elegan dibanding generasi ke-3.

 
Namun ternyata tidak sedikit tanggapan negatif dari pecinta mobil ini, para pemilik Rio gen-3 ternyata banyak yang tidak menyukai tampilan Rio gen-4. Menurut mereka perubahan yang dilakukan KIA menghilangkan nuansa sporty dan cantik Rio, melainkan menjadi terlalu biasa dan tidak lagi menarik.

 
Kami tergolong yang menyukai desain KIA Rio Gen-4, karena kami suka mobil yang elegan dan bernuansa Eropa. Apalagi desain interior Rio 2017 tersebut terlihat jauh lebih modern dibanding generasi sebelumnya.

 
Bukan sekedar sindiran, ternyata kekecewaan pecinta KIA Rio tersebut senada dengan selera kebanyakan konsumen Indonesia dan terefleksi pada menurunnya angka penjualan Kia Rio di Indonesia.

 
Beberapa pemilik Rio generasi ke-3 mengganti mobilnya dengan brand lain untuk kapasitas mobil yang sama. Mereka mengungkapkan alasan mereka tidak memilih KIA Rio generasi ke-4 meski cukup puas dengan mobil sebelumnya dari brand yang sama. Mobil yang banyak dipilih pemilik Rio untuk mengganti mobil mereka adalah Suzuki S-Cross Facelift 2017.

 
Salah satu alasan yang sering diungkapkan adalah karena KIA All New Rio generasi ke-4 yang di kalangan pecinta mobil Korea sering disebut Rio Sunroof, dinilai harganya terlalu mahal untuk fitur yang minim dan tampilan yang mereka sebut biasa-biasa saja.

 
Data wholesale Gaikindo selama quartal pertama 2018 (Januari – April) menunjukkan angka penjualan yang minim, yaitu hanya 38 unit saja yang terdiri dari 22 unit varian matic dan 16 unit manual. Bahkan di bulan April 2018, tak satu pun unit Rio sunroof tersebut dikirim ke dealer. Sejak diluncurkan pada Mei 2017, Rio sunroof terjual sebanyak 136 unit, sehingga total penjualan adalah 174 unit hingga April 2018.

 
Berikut data wholesale KIA All New Rio pada quartal pertama 2018:
Januari 2018   : MT: 5 unit; AT: 7 unit; Total 12 Unit
Februari 2018 : MT: 7 unit; AT: 14 unit; Total 21 Unit
Maret 2018    : MT: 4 unit; AT: 1 unit; Total 5 Unit
April 2018      : 0 unit

 
Dibandingkan penjualan KIA Rio generasi ke-3 pada periode yang sama tahun lalu, jumlah tersebut jauh menurun, dimana KIA All New Rio Gen-3 terjual sebanyak 148 unit. Lalu apa saja kemungkinan penyebab hal ini terjadi?

 
Menurut kami ada beberapa faktor yang membunuh pamor KIA All New Rio generasi ke-4 ini di Indonesia, antara lain sebagai berikut:

 

1. Harga Kemahalan

Untuk small hatchback yang berkapasitas 5 penumpang, harga 250 – 256 Juta Rupiah tentu terlalu mahal bagi orang Indonesia, karena para kompetitor menawarkan kapasitas yang sama dengan harga jauh lebih murah dan fitur lebih berlimpah.

 

2. Fitur Minim

Dengan harga hingga Rp 256 Juta, fitur KIA All New Rio sunroof tergolong minimalis. Ada terlalu banyak pengurangan fitur penting untuk Rio Indonesia. Misalnya tidak ada rem ABS+EBD, tidak ada stability control dan hill start assist, head unit tidak touch screen, tidak ada padle-shift, tenaga mesin berkurang dari generasi sebelumnya dan lain sebagainya.

KMI meletakkan kelebihan Rio generasi-4 pada fitur sunroof yang kenyataannya bukanlah fitur yang begitu berguna dan bukan pula dianggap sebagai kelebihan oleh konsumen Indonesia. Bahkan sunroof adalah fitur yang jarang digunakan bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.

 

3. Kehadiran Kompetitor dan Segmen Lain yang lebih Menarik

Pesaing Kia Rio menawarkan fitur berlimpah dengan harga sama atau bahkan lebih murah. Sebut saja Suzuki S-Cross yang juga berstatus CBU hadir dengan segala kecanggihan yang menggiurkan dengan harga yang relatif sama, mesin lebih bertenaga dan genre SUV yang lebih cocok untuk kondisi jalan di Indonesia.

Ada juga Suzuki Baleno Hatchback dengan fitur-fitur yang juga menarik namun dijual dengan harga 200 jutaan saja. Pesaing lainnya dari brand mainstream juga hadir dengan model baru, seperti Honda Jazz dan Toyota Yaris facelift (Yaris Joker).

Selain itu, kehadiran model baru pada berbagai segmen lainnya juga cukup berperan, misalnya ada Mitsubishi Xpander, serta Toyota Rush dan Daihatsu Terios Generasi baru. Walau berbeda segmen namun harganya berada pada level yang sama dengan Kia Rio sunroof. Sedangkan konsumen Indonesia lebih menyukai mobil dengan kapasitas penumpang lebih banyak.

 
Baca juga:

 
Dari kondisi tersebut, menurut kami seharusnya pihak KMI mengevaluasi fitur dan harga All New Rio generasi ke-4 untuk Indonesia. KMI perlu melakukan research market Indonesia lebih dalam, mengenai apa saja fitur yang menarik bagi orang Indonesia dan berapa harga yang dianggap logis untuk setiap segmen kendaraan.

 
Jika hanya mengandalkan tampilan desain yang menarik, tapi harga tidak logis untuk kantong kalangan menengah Indonesia, maka brand Korea tersebut bisa-bisa makin ditinggalkan konsumen. Karena KIA berada pada segmen people car, bukan merupakan brand premium seperti BMW atau Mercy yang punya marketnya sendiri dimana harga yang mahal justru jadi prestise.

 
Paling tidak KMI bisa belajar dari Suzuki Sales Indonesia (SIS) yang bisa menjual mobil CBU dengan harga relatif terjangkau, namun punya fitur yang berlimpah, kualitas bahan yang tetap bagus dan build quality yang tak kalah baik.

 
Salam Otomotif!

“Penyuka dunia otomotif yang menemukan passion dalam menuliskan opini dan peristiwa. Loves to drive cars and writes a lots about it.”

ARTIKEL MENARIK LAINNYA:

Yayan Abdhi

"Penyuka dunia otomotif yang menemukan passion dalam menuliskan opini dan peristiwa. Loves to drive cars and writes a lots about it."

Tulis Komentar