Dulu Tak Ada Mobil CBU di Indonesia, Gara-gara ini sekarang jadi Ada

CaruserMagz.com – Mobil dan motor yang dijual di Indonesia dihadirkan melalui 3 mekanisme, yaitu diproduksi langsung di dalam negeri, diimpor dalam bentuk terurai dari luar negeri kemudian dirakit di dalam negeri dan terakhir diimpor secara utuh.

 
Mobil yang diimpor langsung secara utuh disebut “Completely Built Up” dan sering disingkat CBU, sedangkan yang diimpor secara terurai disebut “Completely Knock Down” disingkat CKD.

 
Di tahun 1970-an, Pemerintah Indonesia mulai memberlakukan peraturan bahwa semua pemegang merek diwajibkan untuk merakit produknya di dalam negeri. Peraturan itu dibuat karena pemerintah saat itu menginginkan Indonesia menjadi negara ekspor.

 
Hal itu diceritakan oleh Soebronto Laras, selaku Presiden Komisaris PT Indomobil Group. Jadi pada masa itu, tidak ada istilah mobil CBU. Semua distributor mobil dilarang mengimpor mobil secara utuh.

 
“Mimpi pemerintah, berharap Indonesia jadi negara ekspor, ada sejak 1970-an. Arahnya sudah ke sana,” ujar Soebronto di Jakarta, Kamis 25 Oktober 2018.

 
“Boleh menjual mobil, tapi harus terurai, dirakit di Indonesia, Tahun 1976 begitu,” sambung Soebronto.

 
Baca juga: 10 Teknologi Otomotif Baru Diperkirakan Lazim di Tahun 2020-an

 
Lalu sejak kapan mobil CBU boleh masuk ke Indonesia? dan bagaimana perubahan peraturan itu terjadi? Soebronto Laras menjelaskan bagaimana awalnya mobil CBU bisa ada di Indonesia.

 
Pada tahun 1990-an, ada pemain baru yang berusaha menghadirkan mobil nasional jenis sedan. Sempat cukup laris hingga brand mobil nasional tersebut cukup jamak di telinga masyarakat dan mobilnya langsung menyebar di perkotaan.

 
“Sedikit goncang ketika lahir mobil nasional. Saya tidak mau sebutkan namanya, karena sahabat saya. Karena dia, akhirnya kami diprotes sama negara produsen otomotif di WTO (World Trade Organization),” tutur Soebronto.

 
Pemerintah memberlakukan aturan pajak yang ringan pada mobil dengan syarat mobil-mobil tersebut harus dirakit di dalam negeri. Sebagai kompensasi bagi pemegang merek otomotif, diberlakukan keringan insentif bea masuk dan pajak nol persen.

 
Namun ada perlakuan istimewa untuk brand mobil yang disebut mobil nasional, karena tetap boleh masuk dan dikenakan pajak ringan walaupun tidak dirakit di Indonesia. Akibatnya mobil yang aslinya diimpor utuh dari luar negeri tersebut bisa dijual dengan harga lebih murah dari mobil lainnya.

 
Hal tersebut memicu protes oleh negara-negara produsen otomotif, hingga mereka mengajukan protes terhadap Indonesia di WTO. Hasilnya Indonesia kalah di WTO, sehingga terpaksa harus mengubah peraturan yang selama ini berlaku.

 
Peraturan baru yang muncul adalah dibolehkannya impor mobil secara utuh dengan bea masuk 100% dan pajak 40%. Sejak itu, pemerintah memberlakukan pajak impor untuk produk otomotif CBU.

 
“Dulu tidak ada mobil CBU, pokoknya semua mobil harus dirakit di sini. Tapi karena kami kalah di WTO, peraturan itu diubah semua. Akhirnya, sekarang muncul yang namanya mobil CBU dan lain sebagainya,” jelas Soebronto.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA:
Profile Photo - Yayan Abdhi - Carusermagz

“Penyuka dunia otomotif yang menemukan passion dalam menuliskan opini dan peristiwa. Loves to drive cars and writes a lots about it.”

Yayan Abdhi

"Penyuka dunia otomotif yang menemukan passion dalam menuliskan opini dan peristiwa. Loves to drive cars and writes a lots about it."

Tulis Komentar