BLOG INI DIJUAL, HARGA AWAL : RP 500 JUTA (SILAHKAN DITAWAR) HUBUNGI: 0813 7752 5527

Akibat Gunakan Biosolar pada Mobil Diesel Euro 4, Sebaiknya Tetap Pakai PertaDex

Efek Biosolar pada Mobil Diesel Standar Euro 4

Share

CaruserMagz.comAkibat Gunakan Biosolar pada Mobil Diesel Berstandar Euro 4 – Standar emisi baru Euro-4 untuk mobil bermesin diesel akan diberlakukan di Indonesia mulai 12 April 2022. Standar Euro-4 ini sebelumnya sudah diterapkan pada mobil bensin.

Dengan berlakunya standar emisi ini untuk mobil-mobil diesel di Indonesia, maka semua mobil diesel yang dijual mulai April 2022 hanya boleh menggunakan bahan bakar solar dengan Cetane number minimal 51 dan dengan kandungan sulfur maksimal 50 ppm.

Itu artinya mobil diesel tersebut tidak bisa menggunakan Biosolar, karena tidak memenuhi persyaratan tersebut. Bahan bakar diesel Pertamina yang minimal adalah PertaDex, atau solar tanpa tambahan minyak nabati.

Untuk jenis mobilnya, berarti semua mobil bermesin diesel harus diproduksi oleh pabrikan untuk tidak bisa menenggak biosolar, antara lain seperti Toyota Fortuner Diesel, Innova Diesel, Mitsubishi Pajero Sport, Hyundai Santa Fe, Palisade, Staria, Suzuki MuX, jajaran pikap double cabin, dan lainnya.

Beberapa merek sebenarnya telah menerapkan standar Euro-4 pada mobil dieselnya sejak lama, misalnya Hyundai, BMW dan Mercedes-Benz. Karena merek-merek tersebut memang berkiblat ke standar yang berlaku di Eropa.

Akibat Gunakan Biosolar
Akibat Gunakan Biosolar

Baca juga: Dampak Buruk Menggunakan Pertalite pada Mobil Berstandar RON 92

Akibat Gunakan Biosolar pada Mobil Diesel Euro-4

Menurut Didi Ahadi selaku Kepala Technical Support Department PT Toyota Astra Motor (TAM), pemilik mobil diesel yang tetap memaksa mobilnya yang sudah menganut standar Euro-4 untuk minum Biosolar, akan menghadapi konsekuensi yang cukup berat pada mobilnya.

Jika melihat dari angka standar yang ada, maka biosolar ataupun jenis solar diluar spesifikasi (Centane 51 dan Sulfur <50 ppm) tersebut terpaksa tidak bisa digunakan,” kata Didi seperti dikutip CNN Indonesia.

Beberapa konsekuensi tersebut antara lain adalah:

  • Penurunan performa mesin mobil.
  • Kenalpot akan mengeluarkan asap putih karena pembakaran yang tidak sempurna.
  • Suara mesin jadi lebih berisik.
  • Emisi gas buang jadi lebih buruk.
  • Menggugurkan garansi mesin mobil.
  • Rusaknya catalytic converter pada sistem pembakaran mesin.
  • Filter bahan bakar akan lebih cepat penuh, usia pakai lebih singkat.

Penurunan performa, asap putih, desibel suara mesin bertambah dan emisi gas buang menjadi lebih jelek. Lebih jauh lagi, bisa juga menggugurkan garansi,” papar Didi.

Catalytic converter merupakan komponen yang berfungsi mengendalikan emisi gas buang, dengan cara mengubah gas dan polutan beracun menjadi lebih ramah lingkungan sebelum dilepas ke lingkungan.

Jika rusak, komponen tersebut akan mengakibatkan mobil diesel mengeluaran asap dari kenalpot, dan untuk menggantinya, tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected!! (Konten ini Dilindungi)