Mengapa Mobil Listrik Mahal, Ternyata Karena Bahan Ini!

Alasan Mengapa Mobil Listrik Mahal

Share

CaruserMagz.comAlasan Mengapa Mobil Listrik Mahal – Era mobil listrik disebut sedang dimulai di seluruh dunia, bahkan beberapa negara di Eropa telah memiliki populasi mobil listrik yang lebih banyak dibanding mobil berteknologi mesin bakar.

Pabrikan otomotif di Indonesia sudah mulai menjual mobil listrik berbasis baterai (BEV), minimal telah memperkenalkan model konsepnya untuk dijual di masa depan.

Beli Karpet Premium dari FRONTIER atau HAIMA
karpet-misima karpet-haima
Tersedia untuk semua mobil: Avanza-Xenia-Calya-Sigra-Brio-Agya
Rush-Terios-HRV-BRV-CRV-Innova-Fortuner-Xpander-XL7-dll

Namun dari beberapa mobil BEV yang sudah dijual di Indonesia, harganya masih jauh lebih malah dibanding mobil bermesin bakar, hingga masih terasa kurang masuk akal untuk kalangan menengah ke bawah.

Misalnya Wuling Air EV yang merupakan citycar mungil berkapasitas hanya 4-penumpang dan nyaris tidak punya bagasi, dibanderol Rp 250 juta hingga Rp 300 jutaan. Atau Hyundai IONIQ 5 yang level harganya nyaris sama dengan Toyota Alphard.

Harga pada level segmen LSUV untuk mobil ICE tersebut, disebut murah untuk mobil listrik dengan akomodasi lebih minim dari hatchback LCGC.

Padahal masyarakat pengguna mobil di Indonesia, apalagi kalangan menengah ke bawah, lebih membutuhkan mobil dengan prioritas fungsionalitas, kemampuan berkendara jarak jauh serta akomodasi muatan orang dan barang bawaan.

Jadi, mobil listrik masih menjadi kendaraan perkotaan saja, itupun untuk mereka yang benar-benar berduit karena harganya tidak main-main mahalnya.

Nama Mobil listrik mungil diumumkan Wuling Air EV
Wuling Air EV saat Diperkenalkan

Alasan Harga Mobil Listrik Mahal

Lalu mengapa mobil listrik berbasis baterai masih semahal itu? Apakah gerangan penyebabnya, sehingga sulit untuk dijual dengan harga yang selevel dengan mobil bermesin pembakaran internal (ICE).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia pernah menjelaskan alasan masih mahalnya mobil listrik, khususnya di Indonesia, pada April 2022 lalu dalam suatu webinar.

Hal itu dipaparkan oleh Dodit, selaku Pembina Industri Ahli Madya Koordinator Subdit Industri Alat Transportasi Darat, Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin RI.

Dapat kita lihat bahwa pada 2020, komponen baterai ini 50% lebih mahal dibandingkan komponen ICE (mobil bermesin bakar),” kata Dodit pada Rabu (20/4/2022), sebagaimana dikutip cnnindonesia.

Menurut Dodit, faktor biaya terbesar dalam produksi mobil listrik BEV adalah pada ongkos pembuatan baterainya. Lebih khusus lagi pada harga komponen katoda pada baterai mobil listrik.

Setelah kami breakdown cost of battery cells, apabila kita persentasekan 100% harga material, harga katoda mencapai 51%. Inilah yang menjadi penyebab kenapa harga baterai belum bisa murah. Sementara ongkos manufaktur hanya 24%,” jelas Dodit.

Alasan Biaya Produksi Baterai Mobil Listrik Tinggi

Jika kita bedah lagi lebih dalam mengenai komponen katoda tersebut, bisa kita mengerti lebih jauh mengapa harga Katoda sangat mahal. Berikut komposisi bahan baku dan proporsinya dalam baterai Lithium-ion:

Proporsi Bahan Mineral dalam Baterial Lithium-ion - sumber evreporter
Proporsi Bahan Mineral dalam Baterial Lithium-ion – sumber: evreporter

Dari gambar di atas, kita bisa mengetahui bahwa bahan-bahan pada katoda di baterial Li-ion terdiri dari mineral dan logam berharga mahal, seperti Lithium, Nikel, Kobalt, dan Aluminum.

Proporsi bahan pada bagian katoda sendiri didominasi oleh Nikel yang merupakan logam berharga tinggi, dengan porsi 49%. Lithium yang menjadi komponen paling penting pada baterai memang hanya memiliki porsi 7%, tapi dalam hal harga, dia juga signifikan.

Sementara di sisi lain, perebutan Nikel dan Lithium oleh industri otomotif versus elektronik kian sengit, yang memicu harga kedua bahan tersebut meroket sejak tahun 2020.

Diperkirakan tren kenaikan itu akan berlanjut tanpa prediksi melandai hingga 2030, karena demand mobil listrik akan terus meningkat. Kurva cekung ke atas telah diprediksi akan berlaku untuk harga kedua bahan tersebut.

Jadi, jika ketersediaan supply bahan-bahan baku baterai tetap tidak seimbang dengan peningkatan permintaan mobil listrik dan alat-alat elektronik, maka mobil listrik masih membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi teknologi mainstream di industri otomotif.

1 Response

  1. Dinda says:

    Iya nih kak, mobil irit BBM sekarang lagi banyak diminati. Belum lagi BBM isu2nya mau naik lagi, diikuti kenaikan bahan pokok lainnya. ūü•≤

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected!! (Konten ini Dilindungi)