CaruserMagz.com

Blog Otomotif Mobil & Motor Indonesia

Xiaomi QiCycle EC1 - Review Sepeda Listrik MurahDecember 1, 2020

Xiaomi QiCycle EC1: Review Sepeda Listrik Murah, Kelebihan-Kekurangan dan Owning Experience

CaruserMagz.com – About MyRide – Review Pengguna Xiaomi QiCycle EC1 – Sejak menyebarnya wabah Covid-19, tren bersepeda meningkat drastis baik sebagai fungsi olahraga untuk meningkatkan imunitas tubuh, maupun untuk mengurangi kontak dekat dengan banyak orang semisal di bis atau angkutan umum lainnya. Saya juga memandang perlu untuk mengikuti tren ini, sehingga saya mulai menerapkan Bike-to-Office sejak awal tahun 2020.

Demi mengikuti tren yang saya anggap baik tersebut, awalnya saya berpikir yang penting bersepeda ke kantor apapun sepedanya. Sehingga saya membeli sepeda yang murah saja, dengan harapan secara kualitas bahan dan brand-nya sudah lumayan bagus.

Pilihan saya jatuh pada Sepeda gunung Exotic ET-2612 MTB, karena dengan harga Rp 1,75 Juta saya sudah bisa memiliki sepeda MTB dengan frame berbahan Aluminum-Alloy yang kuat dan ringan, dengan perangkat gear-shifter Shimano dan sudah menggunakan disc-brake pada kedua rodanya.

Saat itu saya merasa beruntung karena ternyata sepeda bagus tidak harus mahal seperti dari merek Polygon, United, Wimcycle atau lainnya. Namun rasa beruntung itu tidak berlangsung lama, karena hanya hitungan minggu sepeda itu mulai rewel dan banyak masalah.

Rentetan Masalah pada MTB murah

Awalnya rantai jadi brisik jika gear depan dinaikkan pada gear yang lebih besar, karena rantainya bergesekan dengan shifter, lalu berlanjut rantainya putus. Setelah rantai saya sambung kembali, masalah berikutnya hadir, rodanya goyang dan menari kekiri-kekanan, ternyata as tengah roda belakang patah.

Saya coba bawa sepeda tersebut ke bengkel sepeda untuk memperbaiki semua masalahnya. Namun hanya sekitar 2 minggu masalah ban yang menari-nari karena as roda belakang mudah longgar kumat kembali. Tak terasa ternyata frame sisi kiri pada bagian bawah telah tergerus oleh ban. Saya mulai mengakui, bahwa ternyata harga memang tak pernah bohong.

Entah salah desain atau apalah, saat saya kencangkan kembali baut as roda belakang tersebut, tak lama dipakai, akan segera mengendor kembali. Terus demikian hingga saya malas mengurus sepeda yang berbentuk dan berwarna eksotis tersebut. Hingga akhirnya bearing roda belakang itu rontok dan sepeda benar-benar tidak bisa digunakan lagi.

Damn.. saya menyesal membeli sepeda dengan prinsip yang penting murah. Ternyata murah tidak selalu berarti kita hemat biaya. Uang 1,75 juta terasa sia-sia untuk seonggok sepeda yang jadi penghuni garasi dengan balutan debu.

Change the Mindset! Expensive doesn’t always mean Extravagant.

Dari pengalaman itu, saya berpikir OK-lah, selanjutnya tidak mengapa membeli sepeda yang lebih mahal, namun secara kualitas dan daya tahan akan lebih baik. Saat browsing tentang sepeda, banyak iklan sepeda listrik Xiaomi bermunculan.

hmm.. saya mulai berpikir, sepeda listrik? why not… ini bisa jadi solusi terhadapat masalah saat bike to office sebelumnya, saya selalu sampai di kantor dengan bersimbah keringat. Saat pulang kerja, baju saya bau keringat cukup parah. Jika menggunakan sepeda listrik, hal itu tidak akan terjadi lagi, apalagi jika ada fitur full electric dengan tuas throttle layaknya motor.

Apalagi saya tinggal di perumahan perusahaan yang menyediakan listrik secara gratis, sehingga seharusnya saya memaksimalkan potensi tersebut untuk meng-elektrifikasi semua peralatan rumah tangga hingga kendaraan.

Kami sudah memulai elektrifikasi untuk mengurangi biaya terhadap konsumsi energi seperti menggunakan kompor listrik dan sepeda listrik dari Merek ‘SELIS’ untuk mobilisasi sehari-hari di dalam komplek perumahan.

Jadi.. electric bike to office rasanya juga akan sangat worthed. Mungkin selanjutnya, jika mobil listrik sudah berharga wajar untuk mobil rakyat, akan lebih baik untuk beralih ke mobil listrik semisal Hyundai Kona atau Ioniq.

Menemukan QiCycle EC1

Namun saat melihat daftar harga sepeda listrik, saya seperti ingin mengubur dalam-dalam keinginan punya sepeda listrik. Karena harga yang paling murah adalah sekitar 8 hingga 15 jutaan rupiah. Itu sudah seharga sepeda motor. Rasanya itu kemahalan untuk sekedar sepeda. Karena dengan uang sekitar Rp 4 juta, saya sudah bisa membeli sepeda yang lumayan bagus.

Hingga sekitar awal bulan November 2020, saya menemukan iklan Sepeda Listrik Xiaomi QiCycle EC1 yang merupakan QiCycle kedua yang hadir setelah pendahulunya model EF1. Harga QiCycle model EF1 sebenarnya membuat saya mengelus dada, sepeda listrik sekecil itu berharga sekitar Rp 13 jutaan. Saya kira akan kurang dari Rp 7 juta karena modelnya yang nampak sederhana.

Namun ternyata harga model EC1 adalah sekitar setengah dari EF1, yaitu Rp 6,8 jutaan saja. Untuk ukuran sepeda biasa itu memang terdengar mahal, namun untuk sepeda listrik, itu terasa murah saja. Menemukan iklan QiCycle EC1 membuat keinginan saya memiliki sepeda listrik berkobar kembali. Itu terasa lebih mungkin dan masuk akal untuk ukuran kantong saya.

Kembali Tergoda Harga Murah?

Akhirnya saya rela membocorkan tabungan untuk meminang sepeda listrik Xiaomi QiCycle EC1 dengan banderol harga Rp. 6.799.000 di E-Commerce, ditambah ongkos kirim ke Sumsel seharga Rp 490.000 jadi total harga sepeda listrik tersebut adalah Rp 7.289.000. Bisa dibilang mahal untuk sepeda, tapi lagi-lagi alasan jadi membeli sepeda ini sebenarnya karena harganya tergolong murah untuk sepeda listrik.

“Ternyata saya tidak benar-benar kapok untuk membeli barang berharga murah“. Lalu apakah saya akan kembali kena kutukan harga murah?? Akan saya update pada kolom Owning Experience di sub-judul paling bawah dari artikel ini. Semoga saja tidak..

Unboxing

Berselang 6 hari dari mentransfer uang pembayaran, sepeda listrik yang ditunggu-tunggu sampai juga di pelosok sumatera Selatan, tepatnya di Kecamatan Empat Petulai Dangku, Kabupaten Muara Enim. Namun saya harus mengambil sendiri dengan mobil pribadi dari pool perusahaan kurir, karena cabang tersebut tidak memiliki mobil untuk mengirim barang besar sampai ke rumah konsumen.

Ukuran box packing sepeda QiCycle EC1 ini cukup besar, yaitu sekitar 1,6 x 1,1 x 0,25 meter untuk PxTxL (saya tidak mencatat ukuran tepatnya). Saya sempat khawatir kotak itu tidak muat di mobil saya yang mungil, ternyata bisa dipaksa masuk dengan melipat semua kursi kecuali kursi pengemudi. Packingnya besar, karena QiCycle ini bukanlah sepeda lipat, jadi sepeda ini tidak bersahabat dengan bagasi mobil. Mungkin karena absennya fitur pelipatan itulah yang membuat harganya jauh lebih murah dari Xiaomi model C, Z dan QiCycle EF1.

Unboxing Sepeda Xiaomi QiCycle EC1
Unboxing Sepeda Listrik Xiaomi QiCycle EC1

Saat unboxing, sesuai dengan video unboxing resmi yang ditampilkan di e-commerce. Sepeda sudah dirakit hampir lengkap, hanya setir dan tempat duduk yang harus di-install. Untuk kelengkapannya, ada kotak berisi pedal dan kunci-L yang juga bisa berfungsi sebagai obeng kembang, charger dan manual book yang full berbahasa China (tidak ada versi Bahasa Inggris apalagi Bahasa Indonesia). Setelah semua terpasang, sepeda listrik ini langsung bisa digunakan. That’s it! Tidak ada perakitan yang rumit.

Spesifikasi Xiaomi QiCycle EC1

Spesifikasi sepeda ini telah banyak diumumkan di E-Commerce, namun saya coba highlight spek yang mungkin penting Sobat pembaca ketahui dan jika Sobat enggan mencari-carinya di website E-Commerse, berikut data spesifikasi Xiaomi QiCycle EC1:

Dimensi

  • Dimensi PxLxT = 1.530 x 205 x 1.040 mm
  • Ukuran Roda: 20 Inci
  • Jarak antar Sumbu Roda: 1.014 mm
  • Standar Tekanan Ban: 40 – 65 Psi
  • Bobot: 17,5 kg
Spesifikasi Xiaomi QiCycle EC1 - Review Sepeda Listrik
Spesifikasi Xiaomi QiCycle EC1 – Review Sepeda Listrik

Kapasitas dan Performa

  • Kapasitas Daya Angkut: 100 kg
  • Kecepatan Maksimum (Speed Limit Motor Berfungsi): 25 km/jam
  • Klaim jarak tempuh dengan listrik: 40 km

Kelistrikan

  • Kapasitas Baterai: 5,2 Ah
  • Waktu Pengecasan dari Kosong: 3 – 4 Jam
  • Power Motor Listrik: 180W
  • Voltase Limit Pengecasan: 42V
  • Baterai: Lithium Battery 18650

Fitur dan Lain-lain

  • Pilihan Warna: Hanya Hitam (Hitam keabu-abuan)
  • Riding Mode: 3-Speed Pedal Assist System dan Full Electric Mode dengan Tuas Throttle.
  • MID: Terintegrasi secara permanen dengan bar-Setir.
  • Aksesoris After Market: Keranjang Basket dan Child Seat (Boncengan)
  • Head Lamp : LED
  • Lampu Belakang: Sekaligus Lampu Rem
  • Gear Speed: Single Gear
  • Speed Alarm: 15 km/jam ke atas
  • Turning Light: Tidak Tersedia
  • Horn (Klakson): Tersedia

Rasa Berkendara

Setelah seminggu menggunakan sepeda listrik Xiaomi ini, beberapa hal bisa saya highlight mengenai rasa berkendaranya, sebagai berikut:

Posisi Berkendara: Posisi bersepeda bisa diatur dari ketinggian saddle. Positifnya, karena sepeda ini dibantu oleh tenaga listrik, kita tidak perlu pusing memikirkan posisi duduk agar tidak cepat lelah saat menggoes. Kita bisa memprioritaskan kenyamanan ketimbang efisiensi tenaga kaki saat menggoes dari posisi duduk di saddle.

Mode Netral (N): Dengan mode ini, kita bisa mengaktifkan fungsi lampu rem dan lampu depan, namun bantuan listrik pada tenaga berkendara tidak akan aktif. Jadi ini adalah mode bersepeda dengan full tenaga dari kaki kita. Ada sedikit resistansi dari roda dan single gear yang kecil serta bobot sepeda yang lumayan berat dibanding sepeda biasa dengan ukuran yang sama. Sehingga mode N ini cocok untuk benar-benar berolahraga.

Power Assist Mode-1: Ini merupakan mode dengan power assist paling hemat menggunakan listrik, diklaim menggunakan 25% tenaga listrik. Cukup meringankan beban goes tapi masih cenderung seperti rasa bersepeda biasa. Cocok digunakan untuk bersepeda santai di jalanan datar, atau bisa untuk sedikit berolahraga karena tenaga dari kaki kita akan lebih dominan memacu sepeda.

Power Assist Mode-2: Mode ini diklaim menggunakan 50% tenaga listrik, sehingga bantuan tenaga listriknya cukup kuat. Namun tenaga dari kaki kita tetap terasa dominan sehingga bersepeda terasa solid, ringan dan kaki lumayan tidak lelah di jalanan datar atau sedikit menanjak. Saya merasa ini adalah mode yang paling cocok untuk saya, sehingga lebih sering saya gunakan. Tenaga listriknya terasa tidak mengintimidasi sehingga cocok untuk bersepeda dengan kecepatan 15 – 20 km/jam.

Power Assist Mode-3: Mode power assist ini diklaim menggunakan 75% tenaga listrik. Yang saya rasakan adalah tenaga listrik lebih dominan mendorong sepeda sehingga sering terjadi putaran kaki ke pedal terasa sia-sia pada kecepatan rendah. Jadi mode-3 lebih cocok digunakan untuk bersepeda dengan kecepatan konstan antara 23-25 km/jam, atau saat dibutukan power assist yang banyak di jalanan menanjak cukup terjal. Jika kita terus menggunakan mode-3 ini di jalan datar dengan tenaga goes yang maksimal dari kaki, kecepatan akan cenderung pada sekitar 25 km/jam. Karena motor listrik pada roda akan mati saat kecepatan melebihi 25 km/jam.

Full Electric Mode-D: Mengaktifkan mode dengan tenaga listrik penuh ini adalah dengan memutar throttle pada setir sebelelah kanan. Namun mode ini tidak dapat diaktifkan dari posisi diam layaknya motor listrik. Kita harus menggoes terlebih dahulu, kemudian akan aktif pada kecepatan 5 km/jam ke atas. Di jalanan datar, mode ini bisa digunakan tanpa kita harus menggoes pedal. Kecepatan akan dipertahankan maksimal pada 25 km/jam jika bukan jalan menanjak. Di tanjakan yang cukup terjal, mode-D ini tidak bisa diandalkan 100% karena torsinya tidak besar. Sehingga kita tetap harus menggoes jika menaiki tanjakan dengan mengaktifkan mode-D ini.

Ban: Ban bawaannya terasa berkualitas bagus, karena empuk dan berperan sangat baik dalam mengurangi guncangan dan rasa sakit pada bokong saat melewati jalanan tidak rata. Namun ban ini terlalu ramping sehingga jika pada kecepatan di atas 25 km/jam terasa tidak aman, misalnya saat melewati turunan.

Kelincahan: Terasa baik dan solid membuat rasa percaya diri saat mengendarai sepeda listrik ini.

Minus untuk kenyamanan: Sepeda ini lebih cocok melewati jalanan mulus, seperti jalanan perkotaan di jalur khusus sepeda, jalan aspal mulus, atau jalan setapak beton. Jika melalui jalanan tidak rata, maka akan terasa tidak nyaman. Karena QiCycle EC1 ini tidak memiliki perendam getaran seperti pada model Xiaomi Himo Z16. Bannya yang sangat ramping juga membuatnya kurang nyaman dan kurang aman untuk dipacu di medan off-road.

Untuk olahraga: QiCycle EC1 ini cocok untuk dibawa olahraga, karena jika bantuan tenaga listriknya tidak diaktifkan, pedalnya masih terasa lumayan ringan jika dibandingkan model Himo C20 atau Z16. Namun tidak seringan sepeda goes biasa. Untuk dibawa ngebut di atas 25 km/jam di jalanan mulus, itu memerlukan tenaga dari kaki kita secara murni karena motor listriknya akan mati pada kecepatan 25 km/jam ke atas.

Kelebihan dan Kekurangan Xiaomi QiCycle EC1

Kelebihan

Desain stylist: Clean dan Casual tapi Simple – Sepeda ini tidak menarik perhatian (not attractive) karena warna dan bentuknya yang sederhana. Dari pengalaman saya, tidak banyak orang yang memperhatikan sepeda ini, bahkan banyak yang mengira ini hanyalah sepeda lipat biasa. Jadi ini cocok untuk teman-teman yang tidak suka tampil mencolok. Namun saat dilihat secara detail, ini adalah sepeda dengan tampilan yang cantik karena desainnya sedap dipandang, clean karena tidak terlalu banyak ornamen dan tidak banyak kabel berseliweran yang membuatnya tampak rumit.

Bahan Berkualitas Tinggi – Bahan aluminium alloy-nya terasa solid, ringan dan kokoh.

Bobot Ringan: Meskipun sepeda listrik biasanya berat dan tidak nyaman jika digoes tanpa tenaga listriknya, QiCycle EC1 ini tergolong ringan dan bisa diajak berolahraga untuk goes tanpa listrik di posisi mode netral.

Build Quality Super Rapi – Hal yang enak diperhatikan adalah detail perakitannya yang sangat rapi dan terasa berkelas jika diperhatikan dari dekat.

Dimensi Proporsional – QiCycle EC1 ini cocok untuk kaum pria maupun wanita. Karena dimensinya tidak tergolong kecil seperti model EF1. Untuk posisi yang lebih comanding, bisa didapat dengan meninggikan posisi saddle (tempat duduk). Namun untuk posisi duduk yang lebih nyaman, posisi saddle bisa diturunkan hingga batas terbawah yang diizinkan.

MID Keren – Hal yang membuat sepeda ini terasa modern adalah display cluster-meternya yang terasa futuristik dan terang. MID yang tepat berada di tengah bar setir ini menampilkan kecepatan berkendara, kondisi listrik pada baterai dan mode speed yang dipilih.

Control button user-friendly – tombol-tombol pemilihan mode speed dan untuk mengaktifkan lampu terasa mudah diakses oleh jempol kiri pengendara.

Ada Speed Limit (sehingga aman) – Pembatasan pada motor untuk aktif maksimal pada kecepatan 25 km/jam sangat membantu agar berkendara lebih aman dan tentu juga membuat konsumsi listrik jadi lebih hemat.

Ada Mode Netral: Mungkin nampak biasa, tapi mode Netral bisa disebut kelebihan tersendiri, karena dengan mode ini kita bisa bersepeda tanpa bantuan telaga listrik tapi tetap bisa mengaktifkan lampu depan dan lampu rem, juga display kecepatan dari MID tetap muncul. Sementara sepeda listrik lain kebanyakan tidak memiliki mode ini.

Ada Lampu Rem Build-in yang Terang: Ini juga suatu kelebihan, karena pada sepeda listrik lain yang lebih mahal semisal Xiaomi Himo C20, tidak memiliki lampu rem yang akan meyala terang seperti pada QiCycle EC1. Ini membuat kita lebih aman dari ditabrak kendaraan lain dari belakang.

Kekurangan

Ban Tipis – membuat rasa kurang aman jika melewati jalanan yang berlubang atau tidak rata.

Tidak ada Suspensi Shock Breaker – Membuat bokong terasa tidak nyaman saat melewati polisi tidur atau speed-bump.

Saddle Keras – Ini juga salah satu yang membuat impresi berkendara EC1 jadi kurang nyaman. Sebaiknya diganti dengan saddle yang memiliki pegas.

Bar Setir integrated dengan MID – Sehingga tidak bisa ganti setir untuk posisi tangan yang berbeda semisal ganti setir yang lebih lebar atau lebih tinggi.

Tidak Bisa Dilipat – Ini bukanlah sepeda lipat, sehingga tidak bersahabat dengan bagasi mobil.

Tidak ada Sistem Pengaman Anti Maling – Tidak ada kunci pengaman seperti pada sepeda motor, juga tidak ada sistem alarm sehingga sepeda ringan ini tidak bisa diparkir di tempat umum tanpa kunci tambahan.

Alarm Speed yang Brisik (pada 15 km/jam ke atas) – alarm speed yang terus berbunyi pada kecepatan 25 km/jam ke atas akan membuat teman-teman yang menggunakannya bisa disangka sedang jualan es keliling, atau bisa dikira sedang memamerkan sepeda listriknya pada semua orang. Sebaiknya non-aktifkan alarm ini, karena itu sebenarnya untuk mengikuti peraturan lalu-lintas bersepeda di China.

Baterai tidak bisa dibuka – Ini menjadi kekhawatiran tersendiri, jika nanti di masa depan baterainya soak dan minta diganti, kita tidak bisa mengganti baterainya sendiri tapi harus memakai jasa orang yang ahli atau mungkin harus mengirim sepedanya bulat-bulat kembali ke China atau minimal service-center resmi di Jakarta (jika ada).

Pengaturan ketinggian saddle tidak fleksibel – Tidak seperti kebanyakan sepeda goes biasa yang tempat duduknya bisa dinaik-turunkan dengan mudah, pada QiCycle EC1 harus menggunakan kunci-L.

Kurang Lengkap untuk Berkendara di Jalan Raya – Beberapa kebutuhan pokok untuk bersepeda di jalan raya belum tersedia, yaitu lampu sein dan kaca spion. Kedua aksesoris tersebut wajib ditambahkan jika teman-teman akan sering menggunakan sepeda ini di jalan raya yang ramai pengguna mobil dan motor. Karena akan sangat berbahaya jika pengguna jalan lain tidak bisa membaca arah berkendara Sobat.

Room for Improvement / Saran Modif

  • Tambah Lampu Sein – Wajib bagi teman-eman yang bike-to-office di jalan raya perkotaan.
  • Tambah Aksesoris – Seperti bottle holder, boncengan jika untuk mengantar anak sekolah.
  • Ganti ukuran ban lebih lebar – agar lebih aman melewati jalanan berlubang.
  • Tambah Device Alarm anti-Maling
  • Sediakan kunci tambahan berupa seling atau rantai panjang untuk dapat diikatkan pada benda permanen seperti tiang atau pohon saat parkir.
  • Tambah GPS tracker – Karena sepeda ini cukup menarik bagi maling.
  • Matikan Alarm Speed Limit – sementara dengan memotong kabel speaker di dalam housing lampu depan.
  • Tambah Klakson Aftermarket (jika fungsi horn bawaan dimatikan).
  • Ganti Saddle yang lebih nyaman dengan pegas.

Update Owning Experiences:

  • Beli di: E-Commerse Shoope (Toko: gitzcunk)
  • Harga: Rp. 6.799.000,-
  • Check out dan transfer pembayaran pada: 14 November 2020.
  • Delivery diterima pada: Jumat, 20 November 2020 (6 hari ke Kab. Muara Enim Sumsel).
  • Speaker langsung dinonaktifkan dengan memotong kabel, karena alarm speed yang brisik pada kecepatan 15 km/jam ke atas. Jika dibiarkan aktif, bisa-bisa kita dianggap orang lagi jualan es keliling. Jika ditemukan cara menonaktifkan alarm speed tersebut tanpa menghilangkan fungsi speaker secara keseluruhan, maka kabel akan saya sambung kembali.
  • Mulai digunakan Bike to Office: Senin, 23 November 2020.
  • Keluhan awal: Baterai cepat habis jika sepeda sering dipacu dengan mode full electric atau model Speed-3. Sepertinya klaim daya tempuh 40 km adalah jika menggunakan Power Assist Mode-1 dimana hanya menggunakan 25% daya listrik.

Demikian review sepeda listrik Xiaomi QiCycle EC1 sekaligus owning experience dari pengguna. Semoga informasi ini bermamfaat bagi teman-teman yang mencari informasi mengenai sepeda listrik ini atau yang sudah berniat membelinya. Jangan ragu untuk berbagi informasi di kolom komentar artikel ini, jika sobat pembaca memiliki pengalaman atau pertanyaan terkait Xiaomi QiCycle EC1.

Yayan Abdhi

Tulis Komentar