Carlos Ghosn Kembali Dilepaskan dengan Jaminan $4,5 Juta, Tapi Dilarang Bertemu Istri

CaruserMagz.com – Kasus yang menjerat mantan orang nomor satu di Aliansi Renault-Nissan, Carlos Ghosn, terus bergulir. Namun seperti ditarik-ulur Carlos Ghosn ditangkap oleh pemerintah Jepang, kemudian dilepaskan dengan jaminan uang hingga jutaan dollar, lalu ditangkap lagi, dan seterusnya.

 
Kehebohan ini telah menghiasai berita otomotif di seluruh dunia dalam beberapa bulan terakhir. Entah benar-benar kasus korupsi atau konspirasi politis di dalam aliansi raksasa otomotif tersebut.

 
Tak terelakkan kasus yang menjerat Ghosn ini banyak juga dianggap seperti pertarungan perebutan kekuasaan dalam korporasi tersebut. Ada juga yang menganggapnya seperti ajang balas dendam pada sang CEO karena dominasinya yang otoriter.

 
Belakangan setelah ditangkap kembali untuk kesekian kalinya, Mantan CEO Aliansi Renault-Nissan tersebut dibebaskan lagi dari penjara untuk kedua kalinya, setelah pengadilan Tokyo menetapkan jaminan sebesar 500 juta yen ($ 4,5 juta).

 
Selain uang berjumlah fantastis, Pengadilan juga menetapkan syarat lain untuk jaminan, yaitu bahwa Ghosn tidak boleh bertemu atau berkomunikasi dengan istrinya Carole tanpa izin Pengadilan. Sebelumnya istri Ghosn diinterogasi setelah penangkapan kedua pada awal bulan April 2019 dan Carole telah meminta pemerintah Prancis untuk membantu suaminya.

 
Tidak semudah itu, ternyata putusan bebas bersyarat tersebut ditentang oleh jaksa dengan mengajukan banding, sehingga Ghosn baru akan dibebaskan dari penjara, jika Pengadilan menolak banding tersebut. Itupun Ghosn akan diawasi secara ketat dan dilarang meninggalkan Jepang.

 
Penangkapan kedua kalinya pada mantan CEO Nissan tersebut adalah atas tuduhan penggelapan uang milik perusahaan senilai $ 5 juta, atau sekitar Rp. 70 Miliar. Ghosn sendiri terus menyangkal semua tuduhan, dia mengklaim bahwa ia adalah korban kudeta dari dewan Nissan dan menuduh mantan rekannya “melakukan pengkhianatan”.

 
Rumor yang juga mengiringi kasus ini adalah ketegangan antara Nissan dan Renault di dalam tubuh Aliansi, yang keduanya menjadi representasi negaranya masing-masing. Seolah-olah Nissan sedang berusaha melepaskan diri dari hegemoni penguasaan korporasi asal Prancis atas perusahaan-perusahaan otomotif Jepang.

 
Seperti dirilis Carscoops.com, Nissan dilaporkan akan menolak proposal integrasi manajemen dari mitranya, Renault, yang memiliki 43,3 persen saham di pabrikan mobil Jepang.

 
Renault memang terlihat agresif mencaplok beberapa raksasa otomotif Jepang untuk diakuisisi oleh Aliansinya, setelah Nissan kemudian disusul Mitsubishi yang sebenarnya secara finansial cukup sehat sebelum diterpa kasus Angka Efisiensi Bahan Bakar, yang kemudian menjadi penyebab perusahaan berlogo 3-berlian tersebut dicaplok Aliansi Renault.

 
Mungkin ada kekhawatiran industri otomotif Jepang akan dijajah oleh konglomerat Prancis jika pola Aliansi yang agresif tersebut terus berlanjut. Kita hanya bisa menduga-duga, namun skandal demi skandal bermunculan yang pada akhirnya merubah peta kepemilikan atas korporasi-korparasi besar otomotif tersebut.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA:
Loading...

Yayan Abdhi

Simply an Automotive Enthusiast who loves to express everything by texting.  Karyawan swasta yang menjadikan menulis sebagai hobby dan keseharian.  Semoga blog ini banyak membantu netizen yang membutuhkan informasi seputar otomotif.

Tulis Komentar