Begini Cara Mitsubishi Memanipulasi Uji Efisiensi Bahan Bakar Mobilnya di Jepang

CaruserMagz.com – Sebagaimana telah heboh di jagat otomotif dunia mengenai manipulasi uji efisiensi bahan bakar oleh Mitsubishi Motors Corporation (MMC), Top Management dari Mitsubishi telah mengakui pemalsuan data efisiensi bahan bakar pada beberapa model mobilnya.

Bagaimana Mitsubishi Melakukan Manipulasi Uji Efisiensi Bahan Bakar?

Pabrikan-pabrikan mobil berkompetisi dalam promosi dan penjualan untuk merebut hati konsumen otomotif. Salah satu hal yang sangat efektif untuk meningkatkan penjualan mobil adalah mengenai kehematan bahan bakar. Sehingga perusahaan-perusahaan otomotif tersebut berusaha mempromosikan produk-produk mereka sebagai mobil yang hemat bahan bakar.

Efisiensi bahan bakar sangat menarik bagi masyarakat modern yang makin berhemat dengan biaya hidupnya dan makin peduli dengan keberlangsungan sumber daya energi di masa depan. Promosi kendaraan yang hemat bahan bakar memberi kesan baik pada pasar otomotif karena hal itu baik untuk keberlangsungan energi dan lingkungan, serta tentunya bersahabat dengan dompet konsumen di stasiun pengisian bahan bakar.
Berdasarkan berita yang dirilis bbc.com, dengan judul “Mitsubishi Motors: How did it falsifly its fuel economy data”, kami mencoba memaparkan penjelasan bbc tersebut sebagai berikut:
Pengujian efisiensi bahan bakar dilakukan dengan menempatkan mobil pada alat yang mirip sebuah treadmill, di mana mobil berjalan pada kecepatan tertentu dan konsumsi bahan bakarnya diukur. Mitsubishi tampaknya mengisi angin pada ban mobil yang diuji dengan berlebihan, sehingga beban mobil menjadi lebih ringan dibanding kondisi normal di jalan raya. Trik pengujian ini memberikan angka efisiensi bahan bakar yang lebih baik dari kondisi sebenarnya.
Bayangkan jika Sobat menaiki sepeda, kemudian menggembungkan ban sepeda dengan maksimal, putaran ban akan terasa ringan, namun itu tidak mungkin dilakukan terus menerus karena akan cepat merusak ban, membuat sobat tidak nyaman karena tidak ada efek pegas dari karet ban dan bahkan membuat ban cepat meledak.
kemudian bandingkan pada kondisi normal dengan mengeluarkan sebagian udara dari ban. Sobat akan merasakan beban yang lebih berat. Energi tambahan yang Sobat butuhkan untuk mengayuh sepeda dengan ban normal dibanding ban dengan kekencangan maksimal, memberi gambaran tentang bahan bakar ekstra yang dibutuhkan mobil pada kondisi sebenarnya di jalan raya, dibanding saat pengujian.

Apa Beda Emisi dan Efisiensi Bahan Bakar?

Banyak pemberitaan yang kurang tepat mengenai skandal ini, misalnya ada jurnalis yang menambahkan kata-kata “kecurangan uji emisi bahan bakar” seperti pada screenshot di bawah ini, padahal emisi dan efisiensi bahan bakar sangatlah berbeda, walau secara penyebutan kata agak mirip.
Pemberitaan yang Salah terkait Pemalsuan Uji Efisiensi Bahan Bakar Mitsubishi
Emisi adalah terkait kualitas gas buang yang keluar dari knalpot kendaraan. Sehingga kecurangan pada uji emisi berdampak lebih luas dan membahayakan lingkungan hidup. Hal-hal yang diukur pada uji emisi adalah kadar kimia gas-gas berbahaya dari gas buang, seperti Carbon Dioksida (CO2), Carbon Monoksida (CO), Timbal, dan lain sebagainya.

Polusi Udara karena Emisi Bahan Bakar Kendaraan
Polusi Udara karena Emisi Bahan Bakar Kendaraan
Sedangkan Efisiensi berkaitan dengan kehematan pemakaian bahan bakar oleh kendaraan untuk menempuh jarak tertentu. Misalnya sebuah mobil mini hatchback bisa menempuh jarak 25 km hanya dengan 1 liter bensin, maka hasil tes efisiensi bahan bakar dinyatakan dalam km/liter atau Liter/100km.

Perbedaan dengan Kasus Kecurangan Volkswagen

Pengkaitan Mitsubishi dengan uji emisi juga disebabkan karena skandal ini terungkap tidak lama setelah skandal uji emisi yang dilakukan Volkswagen.

Kasus Volkswagen berbeda  dari apa yang dilakukan Mitsubishi. Volkswagen menginstal perangkat lunak tersembunyi dalam model mobil diesel yang terdeteksi ketika uji emisi resmi sedang dilakukan. Perangkat lunak tersebut berfungsi memodifikasi pembacaan tes uji emisi sehingga seolah-olah mobil yang dites mengeluarkan gas buang yang bersih dan aman bagi lingkungan, padahal aslinya gas tersebut masih mengandung gas-gas berbahaya. Hal tersebut tentunya menguntungkan pembuat mobil, karena biaya produksi yang lebih murah.

Jadi VW mencurangi tingkat gas berbahaya yang berasal dari knalpot untuk membuat mobil mereka terlihat lebih aman bagi linkungan. Sedangkan Mitsubishi mencurangi pembacaan konsumsi bahan bakar sehingga mobil mereka nampak menguntungkan bagi konsumen dalam hal konsumsi bahan bakar.

Ini bukan Pemalsuan Pertama yang dilakukan Mitsubishi Jepang

Pemalsuan hasil uji efisiensi bahan bakar ini bukanlah pertama kalinya Mitsubishi Motors terseret skandal. Pada awal tahun 2000-an, Mitsubishi telah mengaku menutup-nutupi cacat pada produk-produk mobilnya selama beberapa dekade.

Saat itu, penyelidikan internal menemukan bahwa Mitsubishi telah menutupi kesalahan sejak tahun 1977. Mitsubishi melakukan perbaikan terhadap mobil-mobil yang diproduksi secara diam-diam dan tidak melaporkan masalah-masalah pada mobil yang telah dijual kepada kementerian transportasi Jepang.
Hal itu dilakukan karena konsekuensi terungkapnya cacat produksi akan berdampak besar pada keuangan perusahaan, karena harus melakukan recall atau bahkan bahkan membayar denda untuk kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi.

Terbongkarnya skandal tersebut telah menyebabkan penarikan besar-besaran, tuntutan pidana terhadap beberapa karyawan Mitsubishi dan biaya miliaran dollar yang harus dikeluarankan perusahaan.

Dampak Skandal bagi Konsumen dan Mitsubishi sebagai Perusahaan

Sebenarnya bagi konsumen yang telah membeli mobil-mobil Mitsubishi, dampaknya tidaklah begitu terasa. Hanya pada borosnya penggunaan bahan bakar, itupun jika pengguna mobil sangat memperhatikan pemakaian bahan bakar mobilnya. Kebanyakan pemilik mobil tidak begitu ingin menghitung-hitung seberapa hemat mobilnya, apalagi pengguna mobil dengan harga 300 hingga 400 jutaan, mungkin sudah tidak peduli seberapa boros mobilnya, yang penting mobilnya dapat berfungsi dengan baik dan nyaman.

Namun bagi para pemegang saham, sekecil apapun isu yang terkait dengan keberlangsungan perusahaan tempat mereka menanam sahamnya, akan membuat mereka bertindak cepat untuk segera menarik investasinya. Sedangkan isu integritas di Jepang sangat krusial, khususnya yang terkait dengan peraturan dan standar yang dikeluarkan pemerintahnya.

Pemerintah Jepang dapat menghentikan roda suatu perusahaan jika dinilai telah menyalahi aturan, membohongi konsumen atau berpotensi merusak lingkungan hidup. Penghentian produksi mobil-mobil Mitsubishi di Jepang, secara mendadak merusak aliran uang perusahaan tersebut, sehingga nilai saham anjlok dan para pemegang saham secara serentak menarik investasinya.

Demikian yang bisa kami jelaskan, semoga informasi ini memperjelas duduk perkara terkait skandal uji efisiensi bahan bakar oleh Mitsubishi Motors di Jepang. Semoga para jurnalis yang terlanjur menulis berita yang keliru segera meralat pemberitaannya, karena isu emisi adalah isu global yang sangat membahayakan lingkungan, sedangkan efisiensi bahan bakar tidaklah sejahat manipulasi emisi gas buang.

Salam Otomotif!

“Penyuka dunia otomotif yang menemukan passion dalam menuliskan opini dan peristiwa. Memulai blog otomotif pada akhir 2015, lalu menjadikan blogging sebagai keseharian yang menyenangkan.”

ARTIKEL MENARIK LAINNYA:

Yayan Abdhi

"Penyuka dunia otomotif yang menemukan passion dalam menuliskan opini dan peristiwa. Memulai blog otomotif pada akhir 2015, lalu menjadikan blogging sebagai keseharian yang menyenangkan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *