10 Keluhan Pengguna Toyota Calya dan Daihatsu Sigra, Kelemahan dan Solusi Menurut Pemilik

CaruserMagz.com – “Tak ada gading yang tak retak” itu istilah umum yang menggambarkan bahwa tidak ada barang yang sempurna. Istilah tersebut mungkin cocok untuk Toyota Calya dan Daihatsu Sigra, low-MPV 7 seater termurah yang sedang digemari konsumen otomotif tanah air. LCGC sejuta umat ini disebut mobil yang ideal buat keluarga muda, karena tampilannya menawan, kaya fitur dan berharga terjangkau.

 

Akhir-akhir ini, ada beberapa keluhan dari pemilik atau pengguna LCGC kembar Calya-Sigra. Namun masalah-masalah tersebut tidak terjadi pada semua pemilik Calya-Sigra, hanya beberapa kasus yang diungkap oleh pemiliknya. Bagi pemilik yang belum mengalami masalah-masalah tersebut, agar dapat mengantisipasi sebelum terjadi. Bagi calon pemilik yang berminat memiliki Calya atau Sigra, agar bisa menjadi hal yang patut diwaspadai dan diambil langkah pencegahan.

 

Berikut hal apa saja yang dikeluhkan pengguna Toyota Calya dan Daihatsu Sigra:

1. Ban mudah pecah; 2. Gesrot jika penumpang penuh; 3. Tanki bahan bakar plastik tidak ada pelindung, bisa kena polisi-tidur; 4. Mesin terasa pincang akibat komponen elektronik malfungsi; 5. Mesin overheat; 6. Kaca depan berembun hingga mengganggu visibilitas; 7. Ada bunyi-bunyian di setir; 8. Tuas transmisi terasa keras saat mau pindah gigi; 9. Selang buangan air AC mengarah ke arm roda depan; 10. Head rest kursi depan kurang tinggi.

Mari kita bahas satu-persatu mengenai keluhan-keluhan tersebut:

Ban Mudah Pecah

Ban standar untuk Toyota Calya dan Daihatsu Sigra adalah Bridgestone Ecopia EP150 berukuran 175/65-R14-82H. Pada websitenya, Bridgestone mengklaim bahwa ban buatannya ini punya kelebihan berupa rolling resistance coefficient (RRC) yang lebih rendah 23%, sehingga berkontribusi pada konsumsi bahan bakar yang lebih hemat. Selain itu, kontak dengan jalan diklaim lebih merata sehingga menghasilkan daya henti yang lebih baik saat pengereman. Memang tidak ada penjelasan detail mengenaik daya tahan BS Ecopia EP150 ini terhadap benturan dengan benda keras pada sisi sampingnya.

Ecopia ini lebih ringan dari ban lain pada kelas yang sama. Namun apakah itu karena dibuat dari material yang lebih rapuh untuk mengejar bobot yang lebih ringan, belum ada penjelasan ahli yang bisa dijadikan acuan.

 

Fakta yang terjadi, banyak pengguna Calya dan Sigra yang mengalami ban BS Ecopia tersebut pecah pada bagian sampingnya saat bersenggolan dengan benda keras, walau kontak tersebut tidak pada kecepatan tinggi atau kontak yang dirasa cukup pelan.

 

Banyak media nasional yang menanyakan masalah ini pada pabrikan ban tersebut, namun Bridgestone membantah bahwa itu disebabkan kualitas bannya tidak baik, mereka berargumentasi bahwa kejadian itu bisa terjadi pada ban merk apa saja, apalagi jika benda keras yang kontak dengan ban berkontur tajam.

 

Dari pengalaman kami sendiri memakai ban merk lain yang bertipe Radial-Tubeless, dengan ukuran yang sama persis dengan Ecopia EP150 ini, beberapa kali mengalami kontak cukup keras dengan trotoar bagian sampingnya, namun hanya lecet disisi luar, tidak sampai koyak atau meledak.

 

Solusi: Mengenai masalah ban yang mudah meledak, solusinya tentu simple, cukup ganti ban sobat dengan merk lain, kami sarankan ban bertipe radial-tubeless. Tak mengapa agak boros bbm, asalkan lebih kuat dan lebih terjamin kehandalannya. Kami kira kalaupun hemat bbm, tidak akan begitu signifikan perbedaannya.

 

Gesrot saat Penumpang Penuh

Suspensi Toyota Calya dan Daihatsu Sigra banyak dikeluhkan terlalu lembut, sehingga saat semua kursi diisi penumpang dewasa, mobil seperti amblas dan ground clearance jadi sangat rendah. Dalam kondisi tersebut, jika melewati jalan bergelombang, ban sering menyentuh spakbor sehingga terasa jedag-jedug. Parahnya lagi jika lewat polisi-tidur yang tinggi, bagian kolong Calya dan Sigra terkadang kena poldur.

 

Beberapa pengguna mengeluhkan masalah ini dan menganggap sebenarnya Calya tetap tidak bisa disebut MPV 7 seater sesungguhnya. Memang bisa dipaksa 7 penumpang dewasa, tapi ada resiko ketidak-nyamanan dan resiko kerusakan pada bagian bawah mobil. Jadi dari segi daya tampung penumpang, Calya dan Sigra masih setara dengan Datsun Go+ Panca, yaitu 5+2 (5 penumpang dewasa + 2 anak-anak).

 

Solusi: Untuk bisa berkendara dengan aman dan nyaman bersama Calya atau Sigra, sobat dapat melakukan satu dari hal-hal berikut ini:

 

– Ganti suspensi yang lebih keras
– Pasang dumper pada suspensi untuk mencegah gesrot.
– Lepaskan kursi baris ke-3, agar tidak bisa diisi penumpang sama sekali
– Jangan memuat barang yang terlalu berat pada bagasi

 

Tanki BBM Plastik tidak Berpelindung di bagian Bawah

 

Tanki bbm pada Calya dan Sigra dibuat dari bahan plastik. Kemungkinan ini juga trik pabrikan mengurangi bobot mobil, sehingga berkontribusi pada efisiensi bahan bakar. Beberapa pemilik mobil mengeluhkan bagian bawah tanki tidak ada pelindung bahan lain, sehingga tanki plastik tersebut bisa kontak langsung dengan benda keras di jalan, misalnya polisi-tidur, atau aspal di jalan yang bergelombang atau berlubang-lubang.

 

Beberapa kasus tanki mengalami retak dan bocor telah dilaporkan dalam group atau forum pemilik mobil LCGC ini. Kondisi kurang aman tersebut juga diperparah oleh suspensi yang terlalu empuk dan amblas saat diiisi penumpang penuh.

 

Solusi: Beberapa tindakan bisa dilakukan untuk mencegah rusaknya tanki bbm plastik tersebut karena kontak dengan benda keras di jalan, antara lain:
– Usahakan tidak memuat beban yang berat pada bagasi
– Kabin belakang hanya diisi anak-anak saja, tapi bukan anak yang obesitas.

Info terbaru: Ternyata plastik tersebut adalah pelindung tanki yang sebenarnya berbahan Aluminium. Seperti dikabarkan oleh CalyaSigraClub.com. Jadi tidak perlu dikhawatirkan. Baca selengkapnya disini: Tanki bbm Calya-Sigra Aman! Plastik hanyalah pelindung.

 

Mesin Terasa Pincang

 

Beberapa pengguna Calya dan Sigra mengalami mesin yang terasa pincang, bahkan mesin tersebut nampak bergoyang pada posisi idle (mesin hidup tanpa digas). Berdasarkan informai dari pengguna yang mengalami masalah tersebut, hasil pemeriksaan dari bengkel resmi menyatakan bahwa itu disebabkan komponen elektronik berupa coil nomor-2 yang tidak berfungsi.

 

Solusi: Jika mengalami masalah ini, sebaiknya sobat langsung bawa mobil ke bengkel resmi untuk diperiksa oleh teknisi. Solusi dari bengkel resmi adalah dilakukan penggantian pada komponen yang tidak berfungsi tersebut. Seharusnya penggantian tersebut masih cuma-cuma karena masih dalam tanggungan garansi.

 

Mesin Overheat

 

Beberapa pengguna mengeluhkan indikasi mesin yang overheat (panas). Setelah dicek ternyata ada kondisi yang disebut angin palsu pada radiator atau sering juga disebut masuk angin. Kemungkinan penyebab terjadinya angin palsu ini adalah kesalahan prosedur saat mengisi cairan coolant radiator.

 

Solusi: Pengisian ulang radiator coolant harus dilakukan, tidak perlu dengan menguras yang sudah ada. Pastikan dulu kipas radiator berfungsi dengan baik sebelum isi ulang tersebut. Lakukan pengisian bersama dengan dibukanya tutup bleeding udara, dan pastikan juga air radiator keluar.

 

Kaca Depan Berembun

 

Keluhan selanjutnya adalah visibilitas pada kaca depan terganggu karena adanya embun yang dihasilkan dari hembusan exhaust AC mengarah ke bagian bawah kaca. Kondisi ini terjadi saat berkendara di malam hari atau saat cuaca dingin.

 

Hal ini seharusnya tidak terjadi pada penggunaan AC yang normal. Kemungkinan ada setting yang kurang pas pada hembusan AC di bagian bawah kaca depan. Pada mobil lain, hal ini hanya terjadi jika hembusan AC memang diarahkan ke kaca saja pada saat cuaca dingin.

 

Solusi: Untuk mencegah hal ini, jika berkendara pada kondisi cuaca dingin, setting temperatur tidak terlalu rendah, atau jika perlu matikan AC dan buka saja sedikit kaca, tidak melebihi doorvisor, untuk mendapatkan sirkulasi udara dari luar. Jika setting hembusan terlalu besar, serahkan masalah ini pada ahli AC, untuk memperkecil hembusan udara dingin ke arah kaca depan.

 

Ada bunyi-bunyian di Setir

 

Keluhan bunyi-bunyian ini disinyalir karena system setir Calya dan Sigra yang belum menggunakan hidrolik. Bunyi tersebut terjadi saat akan berbelok patah, misalnya di U-Turn.

 

Solusi: Sebaiknya dicek ke bengkel resmi untuk diperiksa system setir dan kaki-kakinya. Kemungkinan ada cacat pada bagian tersebut, karena seharusnya mobil baru tidak mengalami masalah bunyi-bunyian pada setir.

 

Susah Pindah Posisi Gear Transmisi

Beberapa pengguna Calya merasakan sulit memindahkan gigi transmisi pada Calya atau Sigra manual, baik saat ingin menaikkan maupun menurunkan posisi gigi. Kemungkinan masalah ini terjadi karena transmisi Calya-Sigra yang masih menggunakan system kabel dan setting kabel tersebut menyebabkan jarak main-pedal koplingnya terlalu dekat.

 

Sehingga saat kopling diinjak full, posisi main-pedal tersebut tidak bebas secara total, melainkan masih berputar mengikuti mesin, sehingga menjadi sulit untuk diganti posisi gearnya. Jika kondisi imi dibiarkan akan memperpendek umur kopling dan tentunya juga tidak baik pada komponen-komponen yang terhubung dengan kopling.

 

Solusi: Bagi sobat yang mengerti sistem kopling, bisa mencoba setting sendiri ketinggian pedal. Bagian untuk menyetel kopling ada di bagian bawah belakang radiator. Putar ke kanan untuk meninggikan jarak main pedal dan ke kiri untuk memperpendek jaraknya. Bagi sobat yang ragu, sebaiknya bawa ke bengkel mobil, agar di dapat setting yang paling aman dan nyaman.

 

Buangan Air AC ke Arm Roda Depan

Posisi ujung selang buangan air AC mengarah ke arm roda depan, hal ini dikhawatirkan akan merusak arm tersebut dalam waktu lama, karena benda sekeras apapun jika secara rutin kena tetesan air akan mengalami kerusakan, apalagi logam yang mudah berkarat jika secara intens kontak dengan air.

 

Solusi: Cukup tambahi ujung selang hingga posisi ujungnya melewati arm, pastikan air yang dihasilkan oleh pengembunan AC tidak terkena bagian arm tersebut.

 

Head Rest Kursi Depan kurang Tinggi

Keluhan ini terjadi pada pengguna dengan postur tubuh tinggi, hingga lebih dari 175cm. Head rest yang pendek dan menyatu dengan kursi tidak dapat menyanggah kepala penumpang depan dengan sempurna. Hal ini juga sebenarnya kurang aman, terkait fungsi headrest sebagai fitur keamanan.

 

Solusi: Dapat dipilih antara beberapa pilihan berikut:
– Ganti sandaran kursi yang mempunyai head rest lebih tinggi
– Modifikasi kursi tersebut dengan memasang adjustable head rest.
– Pasrah dengan kondisi yang ada, jika perlu mengistirahatkan leher sebaiknya berhenti.

 

No offense! Kekurangan adalah hal yang wajar pada suatu produk otomotif, apalagi Calya dan Sigra adalah mobil berlabel LCGC yang notabene adalah mobil murah jika dibandingkan mobil non-LCGC. ada harga ada rupa! Beberapa hal memang harus dikorbankan oleh produsen mobil untuk mendapatkan harga jual yang kompetitif.

 

Walau sebenarnya bagi orang Indonesia, 100 hingga 150 juta rupiah bukanlah harga yang murah. Dari segi dimensi, kapasitas penumpang, fitur dan tampilan eksterior, sebenarnya kedua mobil ini cukup worthed.

Value for Money-nya terbilang baik untuk ukuran mobil LCGC, apalagi jika dibandingkan dengan kompetitornya Datsun Go+ Panca, kekurangan yang kami jelaskan di atas tergolong tidak signifikan. Kebanyakan pemilik duo MPV kembar ini merasa senang dan puas terhadap kenyaman yang disebut lebih nyaman dari Avanza karena berasa interior sedan, fitur yang lengkap dan sangat irit bbm.

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Calya-Sigra

 

Demikianlah berapa kelemahan atau keluhan pada Calya dan Sigra menurut penggunanya, serta solusi yang mereka ambil untuk mengatasi kekurangan tersebut. Tulisan ini tidak bermaksud menjelek-jelekkan kedua LCGC terlaris ini, tetapi kami berharap ulasan ini bisa bermamfaat bagi pemilik lainnya yang belum mengalami masalah-masalah tersebut, agar bisa lebih waspada.

Salam Otomotif!

 

“Penyuka dunia otomotif yang menemukan passion dalam menuliskan opini dan peristiwa. Memulai blog otomotif pada akhir 2015, lalu menjadikan blogging sebagai keseharian yang menyenangkan.”

Baca Artikel Menarik Lainnya:

Yayan Abdhi

“Penyuka dunia otomotif yang menemukan passion dalam menuliskan opini dan peristiwa. Memulai blog otomotif pada akhir 2015, lalu menjadikan blogging sebagai keseharian yang menyenangkan.”