Renault Kwid Ternyata Tidak Masuk Segmen LCGC, ini Alasannya

 

CaruserMagz.com – Renault baru saja meluncurkan Renault Kwid, Crossover kecil yang mulanya dibuat dan dipasarkan di India dengan harga sangat murah. Prosesi buka tudung tersebut dilaksanakan di Mall Kota-Kasablanka, Jakarta pada Rabu, 19 Oktober 2016.
Renault Kwid ogah disebut lcgc – Gambar oleh OTO.com
Meskipun berharga murah hingga head-to-head dengan mobil-mobil LCGC seperti Datsun Go+, Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Honda Brio Satya dan Suzuki Karimun WagonR, Pihak Renault dengan tegas menyatakan bahwa Renault Kwid bukanlah mobil LCGC.
Bukan hanya dari segi harga, kesamaan Renault Kwid dengan LCGC juga ada pada spesifikasi dan kapasitas mesinnya yang hanya 999cc 3-Silinder. Kelengkapannya juga minim agak mirip dengan Datsun Go Panca dan bisa dikatakan kalah dari LCGC sejuta umat milik Toyota dari sisi fitur keselamatan dan kepraktisan.
Seperti dikutip oleh Otomania.com, Head of Sales and Marketing Division PT. Auto Euro Indonesia, Ario Soerjo, menyatakan “Dengan senang hati kita bilang, Kwid bukan LCGC sama sekali. ini bukan mobil LCGC.”
Kita produk Eropa, harga kompetitif itu kelebihannya. Model juga crossover. Kita hadir untuk memberikan pilihan pada konsumen yang ingin mobil berbeda, bukan sejuta umat.” ungkap Ario, pada ajang peluncuran Renault Kwid itu juga.

Mengapa Renault Kwid bukan LCGC?

Mengapa Kwid tidak dapat diklasifikasikan sebagai LCGC? Hal ini tentunya karena mobil ini dibuat utuh di India atau sering disebut CBU. Sedangkan mobil LCGC disyaratkan untuk dirakit di dalam negeri dengan sebagian komponen di produksi di dalam negeri juga. Yang paling tidak dapat dipenuhi Kwid adalah keharusan menggunakan nama lokal, sedangkan nama Kwid sudah menjadi brand global.
Lalu mengapa harga Kwid bisa bersaing bahkan lebih murah dari beberapa LCGC terlaris seperti Honda Brio Satya? Disinilah kejelian Aliansi Renault-Nissan untuk menghantam pasar LCGC dengan produk non-LCGCnya. Yaitu dengan tetap memproduksi Kwid di India yang biaya dan pajak produksi disana cukup rendah dibandingkan dengan di Indonesia.
Jika melirik kembali analisa kami pada posting sebelumnya: Renault Kwid Terdeteksi masuk Indonesia dari data TPT Kemenperin
Pada posting tersebut, kami memperkirakan harga jual Renault Kwid di Indonesia berdasarkan harga jual di India ditambah kemungkinan komponen pajak, dari analogi selisih harga Datsun Go di India vs di Indonesia. Dari analisa tersebut, kami perkirakan harga jual sampai ke konsumen di Indonesia adalah sekitar 93 – 96 juta rupiah saja, dengan syarat Kwid diproduksi di pabrik Datsun Go, Purwakarta Jawa Barat.
Nah.. jadi dengan harga final 117,7 juta rupiah seperti yang diumumkan pada saat launching, tentunya harga tersebut sudah menutupi biaya pengiriman dari India dan selisih perbedaan pajak antara mobil LCGCdan non-LCGC.
Cerdasnya Renault mensiasati persaingan di kelas LCGC yang mau tidak mau akan dimasukinya, walau Kwid bukan LCGC, adalah pada disediakannya fitur infotainment yang kekinian, yaitu headunit layar sentuh selebar 7 inchi, dengan kemampuan nafikasi dan koneksi dengan gadget.
Selain itu, nilai jual Kwid ada pada segmen crossover yang sedang booming di dunia, tentunya tampilan desain yang gagah tetap akan sangat menggoda bagi pembeli pemula yang rata-rata adalah orang muda. Kabin yang lapang dan luas bagasi yang sangat memadai, sudah memenuhi unsur fungsional.
Untuk tetap membuat Kwid kompetitif, Renault menekan biaya produksi dengan mengurangi beberapa hal yang tidak begitu tampak secara langsung, seperti bahan interior, power windows, retractable seat belt di baris kedua dan fitur keselamatan seperti airbags yang tidak ketat standarnya di Indonesia.
Salam Otomotif!

“Penyuka dunia otomotif yang menemukan passion dalam menuliskan opini dan peristiwa. Memulai blog otomotif pada akhir 2015, lalu menjadikan blogging sebagai keseharian yang menyenangkan.”

ARTIKEL MENARIK LAINNYA:

Yayan Abdhi

"Penyuka dunia otomotif yang menemukan passion dalam menuliskan opini dan peristiwa. Memulai blog otomotif pada akhir 2015, lalu menjadikan blogging sebagai keseharian yang menyenangkan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *