3 Kebiasaan Mengemudi Orang Jepang yang Patut Ditiru

CaruserMagz.com – Jepang sudah menjadi contoh baik bagi masyarakat dunia dalam banyak hal. Misalnya dalam hal kedisiplinan, etos kerja dan atitut yang baik dalam hubungan sesama manusia.

Tak hanya dikenal sebagai negara dengan perusahaan pembuat mobil terbanyak di dunia, ternyata Jepang juga punya hal-hal menarik dan patut kita tauladani dalam hal kebiasaan mengemudi masyarakatnya.

Setiap negara memang punya aturannya sendiri mengenai lalu lintas kendaraan dan cara mengemudi. Namun ada beberapa kebiasaan tidak tertulis dalam regulasi, yang seperti disepakati bersama dan dilakukan secara konsisten.

Dalam hal mengemudi, ada 3 kebiasaan baik masyarakat Jepang yang patut kita tiru. Karena etika-etika tersebut bisa dilakukan di negara mana saja tanpa terikat aturan setempat.

 

1. Etika Parkir

Bukan rahasia umum, bahwa tidak ada standar etika dalam hal cara parkir mobil yang benar di negara kita. Tak sulit kita temui orang yang memarkir mobilnya secara sembarangan. Mereka tidak memikirkan pengguna mobil lain. Misalnya mengambil ruang terlalu banyak atau terlalu mepet ke mobil lain, parkir miring dan lain sebagainya.

Hal yang menjengkelkan, misalnya kita temui orang yang meyerobot tempat parkir saat kita sedang bersiap-siap untuk parkir mundur. Terkadang menjadi orang yang terlalu baik membuat kita kehilangan hak karena ulah orang-orang yang egois.

Berbeda dengan masyarakat Jepang, mereka punya etika yang seperti disepakati dan dilakukan secara konsisten, yaitu parkir mundur. Memang parkir mundur adalah cara yang cukup sulit bagi mereka yang tidak terbiasa. Namun jika dilakukan secara konsisten, akan menjadi kebiasaan dan terasa mudah.

Parkir mundur memang perlu banyak latihan, namun cara ini lebih aman saat harus mengeluarkan mobil dari area parkir. Karena terhindar dari ditabrak mobil lain saat mundur untuk mengeluarkan mobil atau menabrak orang yang kebetulan lewat di jalan.

Orang jepang juga tidak menyerobot tempat parkir pengguna mobil lain yang sedang bersiap-siap parkir mundur, karena mereka tidak mengenal parkir maju.

 

2. Etika Lampu Hazard (Flashers)

Dari namanya jelas bahwa lampu hazard digunakan untuk keadaan emergensi atau darurat. Misalnya mobil mogok, ada masalah dengan ban dan lain sebagainya, yang lampu tersebut memberi sinyal pada pengemudi lain untuk menjaga jarak dengan mobil yang sedang bermasalah tersebut.

Di Jepang, lampu flasher tersebut juga digunakan untuk kondisi yang tidak darurat. Salah satunya adalah sebagai tanda bahwa mobil tersebut sudah mengklaim tempat parkir. Sehingga mobil lain mengerti jika mobil tersebut seadang bersiap-siap untuk parkir.

Begini mereka melakukannya: Posisikan mobil untuk parkir mundur – hidupkan lampu hazard – pasang gigi mundur – selanjutnya mereka bisa memarkir mobilnya dengan tenang karena tempat parkir sudah diklaim dengan hidupnya lampu hazard.

Cara ini sepertinya bisa kita tiru di negara kita, sehingga memberi tanda pada pengguna mobil lain agar tidak menyerobot tempat parkir di belakang mobil kita dengan parkir maju. Dengan tanda visual tersebut, akan lebih komunikatif, karena terkadang orang menyerobot bukan karena egois, tapi karena tidak tahu bahwa mobil kita akan parkir mundur.

Lampu hazard juga digunakan orang Jepang untuk mengucapkan terimakasih kepada mobil di belakang, saat mobilnya diberi kesempatan untuk mendahului atau masuk ke barisan mobil setelah mendahului. Namun mungkin etika ini tidak perlu kita tiru, karena akan membingungkan pengguna jalan lain atau malah ada yang salah faham dan pengemudi mobil di belakang menjadi panik.

 

3. Etika Klakson

Ternyata orang Jepang juga sering menggunakan klakson seperti orang Indonesia. Klakson digunakan sebagai media komunikasi dengan pengguna jalan lain. Di Jepang “tin” cepat sekali atau dua kali berarti terimakasih pada pengendara lain yang memberi jalan.

Sedangkan untuk mengingatkan agar menyingkir dan memberi jalan, orang Jepang membunyikan klakson sedikit panjang, atau lebih panjang untuk kondisi emergensi. Jadi tetap ada etika berterimakasih dalam kondisi dalam perjalanan di jalan raya.

Sedangkan di Indonesia, klakson punya banyak makna, misalnya tin sekali atau dua kali bisa berarti “minggir! saya mau lewat!” atau “hai.. mobil kita sama!” atau “hallo.. saya kenal kamu” dan lain sebagainya.

Klakson yang panjang sering kita dengar di jalan raya Indonesia, dan itu berarti banyak ungkapan yang intinya adalah marah atau kondisi emergensi. Masih kurang, pengemudinya akan membuka kaca dan membentak dengan mata melotot.

Baca juga: Jaga Emosi saat Berkendara!

Itulah 3 etika mengemudi di Jepang yang beberapa di antaranya patut kita tiru. Jepang memang banyak dijadikan contoh yang baik dalam berbagai hal, khususnya dalam hal sikap ksatria mengakui kesalahan, integritas dan atitut yang baik.

Namun sebagai orang Indonesia, kita tidak perlu minder karena ternyata orang Indonesia juga menjadi orang-orang yang super taat aturan dan penurut jika berada di Jepang. Bahkan jamaah haji Indonesia terkenal dengan ketaatan pada aturan dan mudah diarahkan saat melaksanakan ibadah haji di Mekah, Arab Saudi.

Lucunya, orang Jepang juga banyak yang jadi tidak taat aturan saat mereka berada di Indonesia, misalnya parkir sembarangan, bekendara dalam keadaan mabuk dan lain sebagainya. Entah apa yang membuat kondisi mereka jadi demikian. Jadi.. it’s not about the ethnic behavior, but maybe it’s about the cursed soil of our homeland!

Salam Otomotif!

Yayan Abdhi

Penyuka dunia otomotif yang menemukan passion dalam menuliskan opini dan peristiwa. Memulai blog otomotif pada akhir 2015, lalu menjadikan blogging sebagai kesehariannya yang menyenangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *